Rekomendasi Menjadi Blogger Kaya:

Saturday, September 6, 2008

Ketika Ruang Terbuka Hijau Tergadaikan

Oleh Arda Dinata
Email:
arda.dinata@gmail.com

Pembangunan merupakan kata yang menjanjikan sebuah perubahan ke arah perbaikan hidup manusia. Tapi, nyatanya tidak sedikit orang yang menderita akibat adanya proses pembangunan yang mengabaikan aspek keselamatan lingkungan dan kesehatan manusia.

Kenyataan itulah, sekiranya yang sering kita saksikan dari proses pembangunan yang terjadi di beberapa daerah, termasuk di Jawa Barat. Ambil contoh adalah pembangunan jalan tol Pasupati. Dulu, sebelum proyek ini berjalan, betapa indahnya mata memandang, rindang, nyaman dan segarnya bila kita berjalan mengikuti jalan Pasteur oleh rimbunnya pohon-pohon yang ada saat itu. Tapi, kini itu semua tinggal kenangan. Sekarang yang terasa adalah udara panas, debu, dan kegerahan. Inikah yang namanya pembangunan.

Haruskah dengan alasan pembangunan, setiap itu pula aspek kelestarian lingkungan tergadaikan atau bahkan dilupakan? Belajar dari kasus ini, tentu kita dapat mengambil pelajaran bahwa sudah seharusnya pemerintah dalam melakukan pembangunan tidak melupakan aspek keselamatan lingkungan hidup.

Pada konteks kekinian, pantas saja adanya rencana pembangunan kondonium di kawasan Babakan Siliwangi (BS), direaksi keras oleh sejumlah pakar lingkungan Kota Bandung. Beberapa pakar yang menolak rencana itu antara lain, Direktur Human Ecology Universitas Padjajaran, Prof Oekan S Abdullah MA PhD, serta Ketua Jurusan Planalogi Institut Teknologi Bandung (ITB), Hastu Prabatmadjo PhD. Penolakan juga datang dari Direktur Geologi. (Republika, 20/01/03).

Inti dari penolakan tersebut tidak lain, adalah pertama, pembangunan BS akan bertentangan dengan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam mengendalikan kemacetan. Kedua, pembangunan BS dapat dipastikan bakal merubah fungsi lahan. Padahal, kawasan BS sendiri, dinyatakan sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Dan ketiga, bila proyek BS jadi dijalankan, maka dikhawatirkan potensi banjir akan meningkat karena proyek ini membuat berkurangnya daerah resapan air.

Perumahan dan Taman Kota

Bila kita perhatikan, secara garis besar masalah lingkungan di Indonesia menyangkut dalam 4pada, yaitu: population (kependudukan), pollution (pencemaran), policy (kebijakan), dan poverty (kemiskinan). Kenyataannya bisa kita saksikan, kondisi pertumbuhan penduduk yang cepat dan penyebaran yang tidak merata dapat mengakibatkan tekanan berat terhadap sumber daya alam. Terlebih lagi, pertumbuhan penduduk yang tinggi tanpa tersedianya sumber daya alam yang cukup hanya menyebabkan kemiskinan.

Kondisi kemiskinan tersebut, tentu dapat mendorong orang untuk mengeksploitasi sumber daya alam guna mencukupi kebutuhan hidupnya dan merupakan salah satu sumber pencemaran yang diakibatkan oleh sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan di sekitar daerah kumuh.

Adanya jumlah penduduk ini, tentu berkait erat pula dengan tersedianya sarana perumahan yang akrab dengan lingkungan. Bukan sebaliknya, menciptakan kawasan pemukiman/ perumahan yang mengorbankan lingkungan. Karena tindakan semacam ini, hanyalah memindahkan satu masalah dengan memunculkan masalah lain yang baru. Sehingga pembangunan perumahan di mana pun, sebelum membangunnya harus tetap mengutamakan fungsi lahan tersebut dan aspek keselamatan lingkungan hidupnya.

Walaupun kita semua menyadari bahwa perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia selain pangan, sandang, dan kesehatan. Pembangunan perumahan dan pemukiman, dengan sendirinya merupakan unsur pokok dalam pewujudan kesejahteraan masyarakat. Upaya pemenuhan akan perumahan merupakan sasaran yang sama pentingnya dengan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pembangunan perumahan dan pemukiman merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, yang pada hakikatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya (Herlina; 1999).

Secara demikian, rencana pembangunan kondonium di kawasan resapan air BS, sebelumnya haruslah memperhatikan realitas awal dari fungsi lahan tersebut dan keadaan menyeluruh dari kondisi taman kota, hutan kota ataupun ruang terbuka hijau yang ada di Kota Bandung saat ini. Artinya, jangan sampai adanya pembangunan semacam itu, lagi-lagi akan mengabaikan keselamatan lingkungan (baca: kepentingan orang banyak) dan mengutamakan/ menguntungkan sebagian kecil pihak tertentu.

Berkait dengan dampak keberadaan hutan kota, taman kota ataupun ruang terbuka hijau saat ini, warga Kota Bandung, mungkin telah merasakan adanya perubahan suhu di lingkungan tempat tinggalnya. Yakni terasa panas, kotor, berdebu, dan jauh dari semerbak harum bunga.

Padahal, kalau kita telusuri dari literatur milik Haryato Kunto (Wajah Bandung Tempo Dulu; 1985), disebutkan bahwa sekitar akhir abad 19 dan awal abad 20, Bandung dihiasi berbagai taman seperti Taman Merdeka (Pieters Park) yang merupakan taman bunga pertama di Bandung (1885), Taman Sari (Jubileum Park) yang berupa hutan tropis mini, Taman Ganeca (Ijzerman Park), yang berupa kolam ikan dengan aneka bunga terate, Taman Maluku (Molukken Park), Taman Nusantara (Insulinde Park) serta beragam pohon pelindung jalan.

Dengan berkurangnya (pohon) taman-taman itulah, salah satu penyebabnya, yang menjadikan Kota Bandung tidak seindah dan senyaman tempo dulu lagi. Lebih jauh, ia bisa berakibat menyebabkan tingkat polusi dan penyakit paru-paru cukup tinggi.

Singkatnya, kondisi hutan Kota Bandung benar-benar kritis, jauh dari angka ideal yang dibutuhkan warga kota yang telah mencapai lebih dari 2,3 juta jiwa. Istilah lainnya, wilayah RTH di Kota Bandung ini masih sedikit. Dan saat ini jumlah pohon perlindung sebanyak 229.649 pohon. Padahal, idealnya kata Kepala Dinas Pertamanan Kota Bandung, Drs. Ernawan, jumlahnya 920.000 pohon pelindung atau 40% dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut dihitung dengan rumusan 2,3 juta jiwa dikali 0,5 kg oksigen dikali 1 pohon dibagi 1,2 kg, sama dengan 2,3 juta kali 0,4 kg oksigen dikali 1 pohon, menghasilkan 920.000 pohon.

Pada taraf yang lebih luas lagi, misalnya untuk daerah Jawa Barat, jika kejahatan penebangan liar saat ini masih terus dibiarkan, maka hutan Jabar akan musnah. Berdasarkan data Dinas Kehutanan, dari 784.119 ha hutan di Jabar, terdapat sekitar 213.443,23 ha lahan kritis. Daerah yang hutannya paling parah dilanda kerusakan adalah Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Untuk mengendalikan lahan kritis tersebut, pemerintah telah mengalokasikan Rp 79,308 miliar untuk proyek penghijauan lahan kritis di Jabar. Dana sebesar itu berasal dari Dana Pembangunan Kabupaten (APBN) sebesar 29,154 miliar dan bantuan luar negeri (BLN) Rp 50,104 miliar. Kondisi yang sedemikian parah itu, akhirnya membuat banyak kalangan memprediksikan bahwa bila hal tersebut tidak segera ditangani dan ditanggulangi dengan baik, maka hutan di Jabar diperkirakan musnah dalam waktu 5–10 tahun mendatang. Semoga hal ini tidak terjadi, karena tidak bisa kita bayangkan bagaiman nasib manusia, bila kadar oksigen di bumi ini berkurang??

Arti Sebuah Pohon

Untuk itu, mari kita sambut, gemakan dan diimplementasikan secara nyata ide dari Bupati H Obar Sobarna SIP beberapa waktu lalu berupa “kewajiban” menanam pohon buah-buahan bagi calon pengantin, sebagai simbol dari membangun keluarga sakinah dan cinta lingkungan demi anak cucu kita kelak.

Ide tersebut, tentu patut didukung oleh setiap lapisan masyarakat yang menginginkan Bandung (merebut kembali) dengan julukan Paris-nya Jawa, Paris Van Java. Pada tataran yang lebih luas --demi kelangsungan pelestarian bumi kita--, maka gagasan ini patut dicontoh dan diimplementasikan secara benar oleh daerah-daerah yang lain di seantero Republik Indonesia.

Dari sini, kalau saja, kita mau berpikir tentang keberadaan sebuah pohon. Mulai dari ditanam—dipelihara—dewasa (lagi) berbuah. Di sini, ada sebuah pelajaran yang baik bagi kita dalam membangun sebuah kehidupan. Ketika kita menanam pohon, maka berawal dari niat, kemudian kita dengan susah payah menjaga dan memelihara kelangsungan hidupnya. Yang pada akhirnya bisa hidup dengan kokoh dan “menghasilkan” bagi makhluk yang lain (termasuk manusia).

Lebih dari itu, banyak hal yang dapat kita petik dari setiap pohon yang bisa kita tanam. Bukan hanya rindangnya dengan dedaunan dan manisnya buah-buahan semata, tapi juga memperkaya ekosistem kehidupan. Seorang petani organik dari Jepang yaitu Masanobu Fukuoka, seperti dikutip Syaefudin Siman (2000), mengungkapkan bahwa sebuah pohon adalah sebuah kehidupan. Adanya sebuah pohon akan menumbuhkan kehidupan pelbagai organisma di sekelilingnya. Di sekitar daun, batang, dan akar, ada sebuah kerjasama yang harmoni dan saling menguntungkan. Diantara yang paling diuntungkan adalah manusia itu sendiri.

Secara demikian, pada tataran seperti itulah seharusnya sebuah pembangunan perumahan kita bangun dan dikembangkan. Yaitu menuju kehidupan yang harmonis. Tidak saja bagi diri kita, tapi juga bagi sebanyak-banyaknya manusia. Jadi, bukannya kita membangun perumahan (baca: kondonium) dengan cara menggadaikan RTH, karena aset ini tidak lain demi keselamatan anak cucu kita.

Akhirnya, ketika kita membiarkan RTH tergadaikan, maka percayalah bahwa pembangunan itu akan menyengsarakan manusia itu sendiri. Lebih baik bila ada tanah kosong di sekitar lingkungan rumah kita, tanamlah pohon buah. Pohon buah, tak hanya indah tapi juga menghasilkan sumber gizi. Maka, sudah saatnya pemerintah melakukan “pernikahan pembangunan” dan tanamlah pohon! Wallahu’alam.***

(Penulis adalah pemerhati masalah sosial-lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam/ MIQRA, Bandung).

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
http://www.miqra.blogspot.com.

ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:
· Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….

· Peta Harta Karun, Menulis Buku & Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…

Manajemen Sanitasi RS Penghalau Infeksi Nosokomial

Oleh Arda Dinata
Email:
arda.dinata@gmail.com

Pernakah Anda mendengar informasi bahwa ada seorang pasein rawat nginap di Rumah Sakit (RS), bukannya penyakit yang dideritanya menjadi sembuh tetapi sebaliknya justru penyakitnya bertambah parah. Usut punya usut, ternyata si pasein tersebut mendapat infeksi nosokomial. Apa itu infeksi nosokomial?

Dalam buku, “Komponen Sanitasi Rumah Sakit Untuk Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi” (1989: 21), infeksi nosokomial adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi silang (cross infection) maupun swa infeksi (self infection). Infeksi silang ini adalah timbulnya penyakit pada diri seseorang akibat adanya faktor lingkungan (interaksi antara faktor host, agent, environment). Sedangkan swa infeksi berarti timbulnya penyakit atau makin parahnya kondisi penyakit seseorang (carier) karena faktor lingkungan.

Sementara itu, Prof. dr.H. Herry Garna SpAK, PhD. dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) di Ruang Serba Guna (RSG) Unpad mengemukakan, secara umum infeksi nosokomial dapat didefinisikan sebagai infeksi yang didapatkan penderita selama perawatan di RS. Namun, penyakit tersebut belum ada atau tidak sedang dalam inkubasi pada saat penderita masuk RS, kecuali bila penyakit itu berhubungan dengan perawatan sebelumnya di RS.

Secara demikian, apa yang harus dilakukan untuk menjaga fungsi dan kedudukan RS sebagai institusi atau tempat pelayanan kesehatan terhadap individu pasein, keluarganya, dan masyarakat dengan inti pelayanan medik, baik preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif yang diproses secara terpadu agar mencapai pelayanan kesehatan yang paripurna. Pertanyaannya, sejauh mana kondisi kasus infeksi nosokomial yang terjadi pada RS-RS di sekitar kita? Solusi apa yang bisa dilakukan untuk menghalau terjadinya kasus infeksi nosokomial itu.

Setidaknya, jika kita mengetahui aspek-aspek apa saja yang bisa menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial, maka kita sedini mungkin bila ada seseorang (keluarga, saudara, teman, atau siapa pun) yang dirawat di RS dapat mengantisipasinya dengan baik. Begitu juga dengan pihak-pihak pengelola RS, jauh-jauh hari telah mengagendakannya dalam program manajemen pelayanan RS.

Kondisi Infeksi Nosokomial

Keberadaan RS dilihat dari aspek kesehatan lingkungan, pada dasarnya terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik. Dalam kesehariannya lingkungan biotik dan abiotik ini akan melakukan interaksi, baik langsung maupun tidak langsung.

Atas dasar itu, maka di lingkungan RS dimungkinkan terjadinya kontak antara tiga komponen (pasien, petugas, dan masyarakat) dalam lingkungan RS dan benda-benda/alat-alat yang dipergunakan untuk proses penyembuhan, perawatan dan pemulihan penderita.

Hubungan tersebut bersifat kontak terus menerus yang memungkinkan terjadinya infeksi silang pasien yang menderita penyakit tertentu kepada petugas RS dan pengunjung RS yang sehat. Akan tetapi mungkin juga berfungsi sebagai carier kepada pasein, petugas dan pengunjung.

Kondisi kontak yang tinggi dari penderita dengan petugas RS maupun pengunjung itu, tidak menutup kemungkinan sejumlah bibit penyakit dapat berpindah (baca: menular) kepada orang yang sehat dan mungkin dapat juga mengakibatkan penularan yang meluas.

Keberadaan kasus-kasus infeksi nosokomial di RS, sayangnya ternyata tidak semuanya tercatat dengan baik. Tapi walaupun demikian, paling tidak ada beberapa data yang patut kita simak berkait dengan infeksi nosokomial di RS ini. Sebagai contoh seperti data yang terjadi pada ruang perawatan anak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, infeksi nosokomial terjadi antara 4,5 hingga 9,9 persen. Sementara di ruang perawatan intensif neonatus, infeksi nosokomial dapat terjadi hingga 65,1 persen.

Semakin lama penderita dirawat, angka kejadian infeksi nosokomial makin tinggi. Pada penderita yang dirawat hingga 6 hari, angka kemungkinannya sebesar 3,2 persen, 7-13 hari sebesar 16,7 persen, 14-20 hari sebesar 19,7 persen, sedangkan bila lebih dari 35 hari mencapai 48,8 persen. Selain itu, penderita yang mendapatkan infeksi nosokomial bisa dirawat 2,4 kali lebih lama dibandingkan penderita tanpa infeksi nosokomial.

Dari data di atas, dapatlah kita tarik garis merah antara lamanya penderita dirawat di RS dengan kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial. Berkait dengan ini, sebenarnya penderita yang dirawat di RS tidak harus dibebani lagi dengan kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial. Yakni dengan syarat kondisi sanitasi rumah sakit yang terjamin (baik) dan profesionalisme perawat yang terkait, tentu tidak hanya menerapkan asuhan keperawatan (kuratif), tetapi harus dipadukan dengan fokus aspek pencegahan (preventif) pada penderita.

Manajemen Sanitasi Rumah Sakit

Manajemen sanitasi rumah sakit merupakan tindakan pengelolaan dalam upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik, kimiawi dan biologis di RS yang mungkin menimbulkan/dapat mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan jasmani, rohani, maupun sosial bagi petugas, penderita, pengunjung maupun masyarakat sekitar RS.

Dari sini, dapatlah disebutkan bahwa manajemen pelayanan sanitasi rumah sakit diselenggarakan dalam rangka menciptakan kondisi lingkungan RS yang nyaman dan bersih sebagai pendukung usaha penyembuhan penderita, disamping mencegah terjadinya penularan penyakit infeksi nosokomial kepada sesama pasein dan orang sehat baik petugas RS maupun pengunjung.

Secara demikian, penerapan manajemen sanitasi rumah sakit dapat dikatakan sebagai kunci awal untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Pencegahan infeksi nosokomial, dikatakan H. Herry Garna, selaku pejabat Wakil Ketua Panitia Infeksi Nosokomial RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, sebagian besar dilakukan melalui asuhan keperawatan yang berfokus pada aspek pencegahan.

Aspek pencegahan tersebut, tidak lain adalah penerapan usaha sanitasi rumah sakit itu sendiri. Hal ini, tentunya cukup beralasan apabila para perawat harus memahami pentingnya usaha sanitasi rumah sakit dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial, sebab para perawat inilah yang paling lama kontak dengan penderita, yaitu terjdi 24 jam sehari.

Rumah sakit sebagai unsur pelayanan kepada masyarakat, tentunya dalam penerapan sanitasi rumah sakit ini akan terkait erat dengan unsur pelayanan teknis medis dan teknis keperawatan penderita. Sebagai konsekuensi logis dari kedudukan ini, maka sanitasi rumah sakit juga merupakan integrasi dari administrasi/manajemen kesehatan lingkungan, rekayasa sosial (social engineering), epidemiologi, dan pendidikan kesehatan lingkungan bagi masyarakat. Pendek kata, penyelenggaraan sanitasi rumah sakit merupakan bagian integral dari program rumah sakit secara keseluruhan, penetapan sebagai bagian program berdasarkan pada perundangan yang berlaku di dalam rumah sakit.

Sanitasi rumah sakit juga harus merupakan satu kesatuan dan keterpaduan dari: pengetahuan dan teknologi rekayasa (engineering); pengetahuan dan teknologi kimia, pengetahuan bakteriologi dan mikrobiologi; pengetahuan dan teknologi perawatan mekanis; pengetahuan dan kemampuan khusus pengelolaan administratif maupun teknis (managerial skill) di bidang kesehatan lingkungan.

Berkait dengan prinsip-prinsip sanitasi rumah sakit yang diterapkan dalam rangkaian usaha pencegahan dan pengurangan infeksi nosokomial (baca: infeksi silang dan swa infeksi), dapat melalui: Pertama, penanganan kebersihan kerumahtanggaan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan bersih dari investasi mikroorganisme, yang bebas dari jasad renik. Kedua, tersedia dan terlaksananya penanganan, pengumpulan limbah atau sampah yang memadai. Ketiga, tersedianya air bersih yang bebas dari kuman penyakit. Keempat, ventilasi udara yang baik, yang dapat memberikan udara bersih dan segar.

Kelima, teknik-teknik aseptic (pembebas kuman/ hama) bagi semua petugas rumah sakit. Keenam, tempat tidur dan perlengkapannya bersih dan bebas dari kuman. Ketujuh, makanan dan minuman yang sehat, bebas dari bahan pencemaran. Kedelapan, pencahayaan (termasuk alami dan buatan) yang cukup. Kesembilan, bebas dari serangga dan rodent penular penyakit.

Jadi, kemungkinan terjadinya penularan penyakit akibat infeksi nosokomial di RS adalah disebabkan karena pengaruh lingkungan Rumah Sakit yang kurang baik. Oleh karena itu, sebagai solusi untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan tersebut, maka sangat diperlukan adanya penanganan di bidang manajemen sanitasi Rumah Sakit yang baik.

Akhirnya, dengan kondisi sanitasi Rumah Sakit yang baik akan membuat pasein rawat nginap di RS-RS tidak akan terbebani dan dihantui oleh bayang-bayang penyakit yang didapat dari Rumah Sakit dan tentu saja kondisi tersebut sangat membantu dalam mempercepat proses penyembuhan atas penyakit yang dideritanya.***

*Penulis adalah dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya Bandung dan tergabung dalam Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia [HAKLI].

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
http://www.miqra.blogspot.com.

ADA EBOOK GRATIS SEBAGAI BONUS YANG WAJIB ANDA BACA:
· Buku Sukses Untuk Anda. Klik di sini ….

· Peta Harta Karun, Menulis Buku & Menerbitkannya Sendiri, dll klik disini…

bisnis sanitasi, rumah, hotel

bisnis sanitasi, rumah, hotel
LINE OF BUSINESS_______________GARDENING ARTICLESKeasrian lingkungan - sebagai cermin keseimbangan ekosistem- dimulai ketika setiap rumah, kantor dan lingkungan komersial memelihara kebersihan dengan mengelola sampah menjadi kompos, menggunakannya pada tanaman pekarangan jenis tanaman berkhasiat ( tanaman obat) maupun sayuran - sekedar tambahan bagi pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari- yang akan turut menjamin bagi peningkatan derajat kesehatan keluarga dan masyarakat.Memperjuangkan agar setiap keluarga menyukai tanaman - dengan menggunakan komposter, menggunakan kompos, pupuk organik cair dan pupuk tanaman hias adalah langkah kecil menuju penciptaan lingkungan yang makin hijau dan asri - yang berarti turut menyumbang pada penciptaan keseimbangan ekosistem alam, serta yang akan membuat manusia makin bersahabat dan dekat dengan alam.Kita semua telah jenuh dan bosan dengan kegersangan, panas dan berdebu dari alam sekitar dimana kita tinggal, bukan ? Maka, mulailah dengan menyampaikan pesan kepada sesama agar menjalin persahabatan kepada alam. Tanpa persahabatan, kita telah belajar banyak dari berbagai bencana yang ditimbulkan alam juga bisa membunuh, menyusahkan dan membuat manusia menjadi sulit.____________FAMILY ARTICLESKeluarga Indonesia makin dijejali dengan makanan "junk-food", pangan instant kurang gizi dan produk pangan rendah gizi lainnya - sebagai hasil kehebatan iklan membangkitkan keinginan ( awareness) fikiran anak-anak, remaja maupun kalangan masyarakat umum di kota , yang dengan cepat kemudian merobah pola dan kebiasaan konsumsi. Tanpa sadar, suatu saat dirasakan, bahwa mengkonsumsi aneka makanan itu menimbulkan berbagai resiko dan menurunkan derajat kesehatan. Memberi kesadaran kepada khalayak bahwa, sesungguhnya banyak tanaman berkhasiat ( di sekitar alam Indonesia kita - yang terkaya dengan plasma nutfah) akan memberi sumbangan pada meningkatkan derajat kesehatan keluarga, tetangga dan masyarakat sekitar kita.Sampaikanlah bahwa herbal alami, snack dan camilan bergizi (yang bebas kandungan gula tebu dan gula buatan serta bebas bahan pengawet kimiawi), bahan makanan pokok beras "chemicals free" serta kopi dan teh hijau ( green tea) - yang kebanyakan hasil karya UKMK ini - akan membantu menangkal aneka ancaman penyakit berkat kandungan antioxidant di dalamnya.____PUPUK SPESIFIK TANAMANKelompok produk Pupuk Majemuk Spesifik Tanaman adalah pelopor teknologi pemupukan- setelah pupuk majemuk spesifik lokasi atau pupuk flexibel formula Gramalet- yang akan membantu pengguna ( pengusaha agribisnis dan petani ) menjadi lebih efisien mengelola usaha perkebunan dan usaha tani-nya. Dengan pupuk terformulasi spesifik per tanaman- kegiatan memupuk tanpa harus direpotkan oleh mencampur, mengoplos dan menghitung aneka campuran unsur hara lagi. Tanam jenis tanaman apapun tinggal sediakan Gramafix - pupuk spesifik per tanaman. Kabarkan ke semua petani dan pengusaha pertanian di tanah air, menggunakan pupuk secara bijaksana adalah menggunakan kandungan unsur hara pada komposisi dan jenis unsur hara - yang spesifik per tanaman dan hal ini akan menghasilkan perolehan pendapatan yang makin meningkat, mengurangi beban tenaga kerja perkebunan, beban kerja di kebun dan sawah serta makin efisien.Jakarta, Januari 2007Kencana Articles, Sonson Garsoni

Kertas Rumah Tangga & Sanitasi - Daftar Perusahaan - Jakarta ...
RSS: Kertas Rumah Tangga & Sanitasi. Hasil 1-15 dari 15. ... Terima Transfer AIRPORT KE hotel-hotel DI JAKARTA hanya 300rb all in dengan Daihatsu GRAN ...jakarta.indonetwork.co.id/comp/Pembungkus_&_Kertas/Kertas_Rumah_Tangga_&_Sanitasi/0.html - 48k - Tembolok - Halaman sejenis

Kertas Rumah Tangga & Sanitasi - Semua Pilihan - Jakarta ...
RSS: Kertas Rumah Tangga & Sanitasi. Hasil 1-15 dari 32. .... limbah organik dari sektor perumahan, hotel, apartemen, rumah sakit, pabrik makanan olahan, ...jakarta.indonetwork.co.id/all/Pembungkus_&_Kertas/Kertas_Rumah_Tangga_&_Sanitasi/0.html - 59k - Tembolok - Halaman sejenisHasil temuan lainnya dari jakarta.indonetwork.co.id »

Kertas Rumah Tangga & Sanitasi - Daftar Perusahaan - Indonesia ...
RSS: Kertas Rumah Tangga & Sanitasi. Hasil 1-15 dari 42. .... salah satu layanan bisnis terbesar di dunia, beroperasi di sekitar 40 negara. ...indonetwork.or.id/comp/Pembungkus_&_Kertas/Kertas_Rumah_Tangga_&_Sanitasi/0.html - 55k - Tembolok - Halaman sejenis

Kertas Rumah Tangga & Sanitasi - Daftar Produk - Propinsi Jawa ...
RSS: Kertas Rumah Tangga & Sanitasi - Indonesia > Jawa Barat. Hasil 1-11 dari 11. ... 2008, 18:44:50. Keset Kain sangat cocok untuk rumah, kantor dan hotel ...indonetwork.or.id/sell/Jawa_Barat/Kebutuhan_Rumah_Tangga/Kertas_Rumah_Tangga_&_Sanitasi/0.html - 54k - Tembolok - Halaman sejenisHasil temuan lainnya dari indonetwork.or.id »

Kompas.Com - Terapkan.sanitasi.total.berbasis.masyarakat..
Untuk itu, pemerintah berkomitmen mengelola sanitasi dan kesehatan ... penyakit terkait sanitasi lingkungan, pengelolaan air dan makanan dalam rumah tangga, ...www.kompas.com/read/xml/2008/08/04/19220986/terapkan.sanitasi.total.berbasis.masyarakat.. - 35k - Tembolok - Halaman sejenis

KOMPAS Cetak : Sanitasi Buruk, Ancam Kehidupan
Empat intervensi untuk mencegah diare adalah pengolahan air dan penyimpanan di tingkat rumah tangga, melakukan praktik cuci tangan, meningkatkan sanitasi, ...www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.19.00581532&channel=2&mn=174&idx=174 - 34k - Tembolok - Halaman sejenisHasil temuan lainnya dari www.kompas.com »

Methanobacterium (Sanitasi Lingkungan) - Topik - PintuNet.com
Setiap ada TULISAN BARU tentang Methanobacterium (Sanitasi Lingkungan), ... Tel Aviv Hotel, Leather Product, Bisnis di rumah, Bisnis di internet, ...www.pintunet.com/produk.php?vproduk_id=methanobacterium&vpid=161609&gpid=161609 - 23k - Tembolok - Halaman sejenis

Air Bersih dan Sanitasi Masih Langka bagi Penduduk Indonesia
Tujuannya agar sarana air bersih dan sanitasi yang telah dibangun dapat ... air di tingkat komunitas di desa-desa kurang menguntungkan secara bisnis. ...dunia-air.com/bersih/air-bersih-dan-sanitasi-masih-langka-bagi-penduduk-indonesia.html - 17k - Tembolok - Halaman sejenis

Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad: Liputan Berita
Jika boleh disebutkan diantaranya : pembangunan pemondokan mahasiswa (kos-kosan), fasilitas penunjang seperti hotel, rumah makan, gedung pemerintahan, ...www.fikom.unpad.ac.id/berita/detail_berita.php?id=54 - 16k - Tembolok - Halaman sejenis

Titik Rawan Pemborosan dalam Renovasi - Jumat, 29 April 2005
Namun jika rumah yang akan mendapatkan renovasi adalah sebuah ... perlu diingat bahwa sistem sanitasi (pemilihan pipa) pada tempat umum (hotel, mal, ...64.203.71.11/kompas-cetak/0504/29/rumah/1717211.htm - 40k - Tembolok - Halaman sejenis

Wednesday, July 30, 2008

Smoke From Burning Tyres Pumps Dioxins Into Air

Smoke From Burning Tyres Pumps Dioxins Into Air
Melanie Gosling – Environment Writer

The uncontrolled burning of scrap vehicle tyres around Cape Town is pumping toxins into the air, including cancer-causing dioxins and pollutants which can cause genetic mutations and birth defects.

Black smoke from the tyres, set alight by people who recover and sell the handful of scrap metal left behind after burning, is 13 000 times more toxic than emissions from a coal-fired power plant, according to research done by the US Environmental Protection Agency. The pollutants disperse over long distances, meaning Capetonians are exposed to them beyond the spot where the tyres were burned.

The liquids and solids left behind after the tyres have been burnt can pollute the soil, surface water and ground water, and it’s possible that the pollutants can settle on pasture, food crops and in water, and accumulate in animal tissues, including meat, fish and eggs.

Humans, at the top of the food chain, are the ultimate reservoi8rs for these pollutants.

Although burning tyres is illegal, the authorities seem powerless to stamp out the practice, which is particularly widespread in Cape Town’s poorer areas where recovering the scrap metal in the tyres is a way of earning cash.

Residents in Philippi say some tyre-burning is run as “well organised operations”, like the one next to the City Council’s Cleansing Branch in Philippi where large stockpiles of tyres are kept and burned periodically. The metal that is left behind is sold to a nearby scrap dealer, they say.

Now some residents have had enough, and through the Legal Resources Centre, have called on the authorities to take action.

Angela Andrews, from the Legal Resources Centre, has written to the City Council on behalf of the South African National Civics Association, the Mitchells Plain RDP Forum and the Environmental Justice Networking Forum, outlining the health risks and uncontrolled tyre-burning and calling for a meeting to discuss how to deal with the issue.

“This has a much wider effect on Cape Town than people realise.” Dioxins are known to cause cancer from very small amounts.

“In Europe and the US the public know all about dioxins and are scared of them. Here they’re being boiled up right under our noses and no one seems to worry much,” Andrews said.

Hans Linde, head of the Cape Metropolitan Council’s air pollution control, said yesterday: “We’re very, very concerned about the tyre-burning problem, and we’re trying our utmost to get a more environmentally-friendly way of disposing of scrap tyres. We’ve been pushing government and they’ve started a process, but it’s not been as rapid as we would have liked.”

Linde said one of the problems of policing tyre burning was trying to get landowners to control tyres coming on to their land. It is illegal to dump tyres anywhere except at a hazardous waste disposal site.

“In the informal areas we have 14 of 15 landowners and we’ve tried to get them to control tyres on their land, but no one is accepting responsibility,” he said.

He said a committee had been formed under the Department of Environment Affairs to look at acceptable disposal of tyres. One proposal was to set a levy on tyres, which the consumer would pay on purchase, and which would be used to finance an environmentally acceptable method of disposal.

Landfill Sites ‘Will Reach Capacity in Five Years’

Landfill Sites ‘Will Reach Capacity in Five Years’
NOWHERE TO PUT THE RUBBISH IN 2010
Wendell Roelf – Sapa

Cape Town faces a filthy future as the city’s six major landfill sites are expected to reach their capacity in the next five years.

“We have a serious crisis. Imagine what the city will look like in 2010, when refuse trucks collect dirt and have nowhere to put it,” said Saliem Haider, acting head of disposal in the City’s Solid Waste Department.

Of the six landfill sites, at Coastal Park, Vissershok, Bellville, Faure, Brackenfell and Swartklip, two have already been shut down.

After the closure of Swartklip and Brackenfell, hundreds of thousands of tons of waste have been transferred to the remaining sites, considerably shortening their lifespan.

For example, Coastal Park has a recommended lifespan of 15 years and Vissershok six years without a proposed northern extension. But now, with Faure expected to close next year, their lifespan will reduce to five years each.

The city was conducting at least 13 specialist studies, which include the impact of air and ground-water pollution and infrastructure accessibility, on two sites for a proposed regional landfill site – one at Kalbaskraal and another South of Atlantis.

“These sites will only become operational at the earliest in 2011, which means that in 2010 the city won’t have an inch of legal space to put its waste,” said Haider. He said the city needed to buy at least 500ha of land for the new regional site, which would operate for a minimum of 30 years. Compounding the precarious situation was the possible closure in September 2006 of the Bellville South Landfill Site.

The City had successfully appealed against a provincial decision two years ago supporting the closure, but now needed clarity on the way forwarded from environment MEC Tasneem Essop, whose spokeswoman Lynnette Johns said Essop would visit the site next week.

The Bellville South site has also been proposed for a pilot methane extraction project in which methane will be taken from the landfill and sold as carbon credits under the Kyoto Protocol to reduce harmful emissions and provide an alternative energy source to surrounding industries.

Haider said profits from a successful project – studies show success is likely – could help pay for the rehabilitation of the landfill site, estimated to cost about R75 million.

The community has campaigned for the site’s closure, which besides being an eyesore was also said to have increased health problems in the area.

Haider said the city was against the closure because of the knock-on effect on the Bellville site. He said Cape Town was on average dealing with a 6% annual increase in waste, despite minimisation attempts.

Friday, July 25, 2008

Output specifications for Waste Minimisation PPP Feasibility Studies

6.
Output specifications for Waste Minimisation PPP Feasibility Studies


Waste Minimisation Programmes typically include the following outputs:

􀂾 Preservation of future landfill airspace to avoid massive expenditure forestablishment of new landfill or alternative waste treatment technology as long as possible

􀂾 Identification and quantification of the core contributors to the waste problem (local Waste Information Data System is required)

􀂾 Establishment of WM targets and policies that create the right incentives and drivers for WM for all stakeholders

􀂾 Info/Awareness and Education programs that correspond with the true needs of the community and address the parties that create the main impact (important for both internal and external stakeholders)

Some suggested general and specific ouput specifications for a Waste Minimisation PPP would be to minimise waste through:

• Encouraging the efficient use of materials

• Developing and promoting source reduction and reuse strategies

• Integrating these strategies with recycling

• Reducing the use of nonrecyclable, nonreusable or toxic materials

• Replacing disposable materials and products with recyclables and reusable materials and products

• Reducing volumes of packaging

• Reducing the amount of garden waste landfilled

• Establishing landfill disposal rate structures with incentives to reduce the amount of wastes that generators produce

• Facilitating extended producer responsibility around key problem waste sources

• Increasing the efficiency of the reuse and recycling of paper, cardboard, glass, metal, plastic, and other materials

Sanitary News

http://sanitasinews.blogspot.com
Sumber: Waste Minimisation Section 2.2

Legal Aspects of PPPs and Waste Minimisation

5.
Legal Aspects of PPPs and Waste Minimisation


The National Waste Management Strategy Action Plan for Waste Minimisation & Recycling state:

“Public-Private and Private Sector initiatives: It is essential that there is active participation of the private sector, not only as the principal generators of waste, but also in acknowledgement of their specific technical and entrepreneurial capacity. (NWMS Action plan) “

General legal aspects around PPPs are covered in other sections of this document.

Sanitary News
http://sanitasinews.blogspot.com
Sumber: Waste Minimisation Section 2.2

Why a PPP for Waste Minimisation

4.
Why a PPP for Waste Minimisation


A Public Private Partnership (PPP) is a partnership between the public and private sector for the purpose of delivering a project or service which was traditionally provided by the public sector. The PPP process recognises that both the public sector and the private sector have certain advantages relative to the other in the performance of specific tasks, and can enable public services and infrastructure to be provided in the most economically efficient manner by allowing each sector to do what it does best. Private sector innovation and technological, financial and management expertise can be gained through using a PPP approach to projects traditionally within the sphere of local authorities. PPP is another element in the general moves to modernise the public service and local government, providing greater efficiency and effectiveness and ultimately a better quality customer service.

The essence of PPP is that they place the risks with the party best placed to manage them thus ensuring best value for money. The long term and integrated nature of PPP service contracts incentivises the contractors to consider the synergies between the generation of waste and its ultimate collection & disposal. This can result in the delivery of public services in a more environmentally sensitive way and without an additional price tag.

Because all members of the community generate waste, local governments often form partnerships with multiple parties to effectively reach their target audience. These partnerships help local governments gain the trust of constituents, and increase community-wide participation in their programs. Because waste minimisation is a shared responsibility, it will only occur through a dedicated partnership between those that manufacture goods, use products and manage discarded materials.

Around South Africa, as a matter of fact (and in direct response to the increasing pressure on remaining airspace and decrease of natural resources) more and more PPPs are entered with specialist consultants and set up as pilot projects to kickstart industrial, commercial and residential waste minimisation initiatives. Some of the most recent PPP examples include various City of Cape Town driven dedicated pilot waste minimisation programmes for sectors of local industry and commerce including shopping centres, hotels, food industry, plastic industry, metal finishing industry (see the Lessons Learned section for more details that have been widely implemented.

These were initiated in response to the actual volumes industry and commerce contribute to the total waste stream landfilled in Cape Town when compared with residential waste generation rates.

Sanitary News
http://sanitasinews.blogspot.com
Sumber: Waste Minimisation Section 2.2

Strategic Objective of Waste Minimisation PPPs

3.
Strategic Objective of Waste Minimisation PPPs


The strategic and operational benefits of PPPs around Waste Minimisation for a municipality in terms of its strategic objectives would include conforming to the waste management hierarchy in any IWMP, addressing waste overload crises, improving environmental performance and saving operation money and time unnecessarily spent on managing waste that could be avoided in the first place.

Benefits include:
• Reduced amount of waste requiring collection and disposal;
• Extended useful life of landfills;
• Money saved through avoided collection and disposal costs;
• Local businesses provided with a service that helps save them money;
• Improved community understanding of the importance of waste reduction and resource conservation efforts.

Before embarking on any waste minimisation initiative a municipality must clearly realize who creates the largest impact with regards to waste generation in the community and therefore set the right strategic objective for waste minimisation. The American Green Grassroot Network organisation (www.ggrn.org) suggests (if a true Life Cycle Analysis approach is followed to evaluate the waste impact of products) that for 1 ton of domestic consumer waste produced an equivalent of 70 tons of waste are on average made by industry (e.g. through minining, agricultural, manufacturing) to make such goods in the first place.

This correlation speaks for itself and identifies the true problem that needs to be addressed by effective municipal waste minimisation programmes - which is inefficient industrial production/commercial operations (in combination with general overconsumption). Both post consumer and post industrial recycling play an important role to reduce the amount of waste landfilled but those interventions alone will not address the problem nearly sufficiently. As has been famously quoted by a leading “Zero Waste to Landfill Campaigner: “Recycling is an aspirin just alleviating a large collective hangover- overconsumption”.

The strategic objective for PPPs around Waste Minimisation would therefore be to make use of beneficial PPPs in order to minimise the amount of waste generated in the first place, as opposed to simply diverting waste for recycling. This could either be a specific PPP for a specific waste minimization action (e.g. education campaign), or planning towards waste minimisation can be included as an aspect of a general waste management PPP.

The latter is very strongly suggested as waste minimisation should really become the overall objective of any waste management PPP.

Public/Private Partnerships for achieving waste minimisation objectives are needed. A feasibility study would need to determine whether a PPP would be able to achieve the specific waste minimization goals cost-effectively, within technical, legal, political & financial limitations. It is common sense to accept that an effective programme that manages to minimize waste in the first place will have significant cost benefits in the long-term, as the cost for managing the waste is often removed, if not significantly reduced, or even leads to income generation through ‘waste’ reuse. The costeffectiveness
of waste minimization programmes are not always simple to ascertain.

In many cases, the money spent on e.g. an education campaign is not directly turned into minimized volumes of waste, and it my take time to see the results.

Sanitary News
http://sanitasinews.blogspot.com
Sumber: Waste Minimisation Section 2.2

Thursday, July 24, 2008

The Need for Waste Minimisation

2.
The Need for Waste Minimisation


Short answer: There is always a need for a waste minimization programme. Any Waste Management programme will be more feasible in the long-term, if it includes effective waste minimization, and hence any PPP around waste management should include waste minimization in its strategic objectives and outcomes. In addition, specific PPPs can be set up for carrying out specific Waste Minimisation programmes.

Waste that is prevented from being generated in the first place is waste that does not need to be either collected and transported, nor recovered for recycling, treated or landfilled at any cost. Making no waste or as little as possible by clever planning of possible internal service delivery or PPP contract conditions needs to receive the main attention before any further planning is done e.g. to maximize the recovery rate for recyclables, embark in composting of waste, etc.

The City of Cape Town for example currently faces the following scenario:
In 2005 waste volumes landfilled in Cape Town were exceeding 2.1 million tons. The current annual growth of population is around 2 % but waste volumes currently grow at an annual rate of 7%. Volumes from recycled waste (mostly from post-industrial sources with hardly any notable contribution from post consumer waste sources) summed up to a mere 288 000 tons (just 13% of the volumes landfilled. As a result landfill site air space will run out much quicker than the Council anticipated just 5 years ago. As the permission for the development of a new regional landfill site is pending recent estimates are that Cape Town’s remaining landfills might be full in about 6-7 years whereas a few years ago numbers of 15 years remaining airspace were communicated. Initial attempts to address this rapidly growing waste problem exclusively with the conventional “end of pipe” approach of increasing the reuse and recycling rates of post-consumer and post-industrial waste- did NOT solve the problem at all. This is because the core of the problem is not being addressed, which is that too much waste is generated in the first place due to inefficient production and overconsumption.

Sanitary News
http://sanitasinews.blogspot.com
Sumber: Waste Minimisation Section 2.2

WHAT IS WASTE MINIMISATION?

This section provides guidance on feasibility studies for solid waste minimization PPPs to assist municipalities have an appreciation of what the feasibility study entails. The specific purpose of this section is to share with the municipalities the experience gained and lessons learned by South African Waste Minimisation Specialist consultants related to Waste Minimisation projects and PPPs (including some which have been initiated and supported by the Municipal Investment and Infrastructural Unit (MIIU)) over the last few years. The objective is to combine the knowledge and skills acquired around waste minimisation projects into one document that can assist municipalities when they embark on a feasibility study for a PPP.

1.
WHAT IS WASTE MINIMISATION?


Internationally there have been several definitions proposed for the term “Waste Minimisation” (WMin) as it is a broad term that has different meanings for a variety of stakeholders. This fact continues to create confusion amongst South African communities, business, waste management professionals and Municipalities alike who often do not have a common understanding/opinion of the definition of Waste Minimisation and what activities it entails..

For most South Africans “waste minimisation” is considered to be inclusive and comprises of the reduction of waste (of both volumes and the toxicity) along ALL elements of the integrated waste management (IWM) hierarchy (as listed below).

This is closely in line with DEAT’s definition where “Waste minimisation comprises any activity to prevent or reduce the volume and/or environmental impact of waste that is generated, treated, stored or disposed of”.

There is however also a school of thought that follows the European Waste Minimisation definition which reserves the use of the term only for one specific aspect of the integrated waste management strategy, namely the “Source Reduction” component. Waste Minimisation then also gets a much broader definition and is described as ‘a preventative approach to environmental management through which goods and services are produced with the minimum environmental impact under present technological and economic limits’.

In this case the terms “waste minimisation”, “cleaner production”, “pollution prevention” and “source reduction” mean essentially the same and are aimed at the optimisation of integrated waste management. For the document, the most popular local definition of “Waste Minimisation” will be used: 'Waste minimization comprises any activity to prevent or reduce the volume and/or environmental impact of waste that is generated, treated, stored or disposed of”.

Sanitary News
http://sanitasinews.blogspot.com
Sumber: Waste Minimisation Section 2.2

Sunday, July 20, 2008

House Plants Not Safe From Pesky Pests

by Kent Higgins

A disease known as "damping off" is a common affliction suffered by plant seedlings in their transition to a new home. A good method to cut down on this is through the use of a sterilized starting mixture, which limits the appearance of this disease. If you notice any of your seedlings have been affected by this, you must remove and discard them to ensure it doesn't spread to other seedlings.

Another common bane of the average house plant is leaf mold, most commonly found on rubber plants and screw pines. This fungus will also spread if not contained, so affected leaves should be immediately removed and burned. If the disease has already spread too far there may be nothing left to throw out the plant, as it could very well lead to the disease affecting other nearby plants as well.

This rule applies in many instances. Pest infestation especially will often require you to throw away the entire plant. The effort to try and rid the plant of the pests and restore it to good health, coupled with the ever present risk of other plants becoming infected really makes this choice an easy one.

Of course this may certainly be a difficult decision, especially when the plant in question is one you've had for a long time, and has become as much a part of your decor as any other piece of furniture or decoration. The good news is that if the pests or disease have not spread overly much, you can still endeavour to save it. The plant should be moved to a new location, away from other plants while you try to bring it back to health. At least in this way you can be certain that no other plants will be infected should the threat continue to grow worse.

Pests, in the form of insects, are one of the most common forms of plant suffering. One of these is the aphid, an insect which usually inhabits the underside of leaves. They come in a variety of colors, which may be difficult to pick up when colored similarly to the leaves themselves. A good spray with water may be enough to remove them, and should be the first step taken in trying to do so. When that fails you can resort to a commercial insecticide instead.

Multiple sprayings will likely be necessary, after which point the remaining few may need to be taken off by hand. This can be accomplished by winding a wisp of cotton around the end of a toothpick and lightly dipping it in alcohol. This creation should easily remove the remaining few who proved resistant to the water or insecticide.

Another form of insects are scale insects, which con in a number of different shapes, sizes and colors. Plants most susceptible to these pests are ferns, rubber plants, citrus fruits, ivy and palms.

These hardy pests have a level of immunity to insecticides that makes other methods of removing them more viable. The toothpick method mentioned above is one of the better ways to get rid of these guys, as you'll be all but forced to remove them by hand one way or the other.
These are just a few of the many pests you may encounter when dealing with house plants. The most important thing is to always keep a watchful eye over your plants to make sure they're in good health, and take action immediately when anything seems to be awry.

About the Author
Kent Higgins understands why so many individuals just like you get frustrated with the topic of ficus tree care. Become acquainted with http://www.plant-care.com grow and increase your education on the subject of houseplants, landscape and lawn.

Say No to Paper or Plastic- Go Green!

by Suzanne Macguire

Environmental degradation is one of the greatest causes of concern spearing up its head these days. A little cooperation on our part can work wonders to save the environment. Cooperation can begin at individual level by ensuring that the articles of daily use are environmental-friendly. Research suggests that almost 500 billion to 1 trillion plastic bags are consumed and discarded annually worldwide! This is alarming indeed as plastic bags are not biodegradable- they break up into smaller toxic particles, contaminating both soil and water. So the next time the clerk at your favorite grocery store asks whether you prefer paper or plastic, give an environmental-friendly answer by choosing "neither".

People, in general, are under the misconception that paper bags are better than the plastic ones. But this alternative carries its own set of environmental problems. According to the American Forest and Paper Association, in 1999 the U.S. alone used 10 billion paper grocery bags- which adds up to a lot of trees! This is no good news for environmental activists who promote afforestation and tree-saving tactics.

The solution to this problem lies in the use of high quality reusable bags, emitting no residue to harm the environment during its production and can be easily reused. These bags are usually comprised of 80% post-consumer waste. Reusable grocery bags have a washable surface and are more spacious. Fashion conscious people can also take their pick of the wide range of eco-friendly bags available in soft and natural hues. These bags use natural fibers, which consume less energy during the production process. For instance, corn-based bags break down in landfills or composters in four to twelve weeks. This way the environment is kept safe of the disastrous hazards of plastic bags.

A number of eco-friendly companies have now come up with unique reusable bags- thereby acting as tools for increasing popular awareness for saving the environment from artificial hazards. These ethical alternatives can thus be a life-saving effort, not just for a few but for the multitude!

About the Author
Suzanne Macguire is an expert writer and an environmental activist, promoting the use of reusable shopping bags.

Thursday, July 10, 2008

Sanitary News

Waste Treatment and Disposal, Sanitary, Recovery, Recycling, Reuse, Clen Product, Environment Health, Etc.